JAKARTA — Seni ukir legendaris asal Kabupaten Jepara kembali mendapatkan panggung kehormatan di tingkat nasional. Melalui pameran seni bertajuk “TATAH” yang digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Rabu (29/4/2026), warisan budaya ini dipamerkan secara megah. Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yang ditandai dengan prosesi pemahatan simbolis pada sebongkah kayu utuh. Pemahatan ini dilakukan bersama para tamu undangan dan nantinya kayu tersebut akan dibentuk menjadi ornamen mahakarya khas Jepara, “Macan Kurung”.
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting nasional dan daerah, di antaranya Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, serta Bupati Jepara Edy Supriyanta. Kehadiran para pejabat negara beserta sejumlah duta besar negara sahabat ini mempertegas posisi seni ukir Jepara yang bukan sekadar industri kerajinan komersial, melainkan sebuah warisan budaya hidup yang bernilai filosofis tinggi dan terus dijaga lintas generasi.
Bupati Jepara Edy Supriyanta dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) terus bersinergi agar seni ukir ini tidak runtuh menjadi legenda masa lalu. Menurutnya, pameran “TATAH” merupakan langkah konkret untuk mengabadikan eksistensi ukiran Jepara di era modern. Ia menambahkan bahwa bagi masyarakat Jepara, kata tatah bukan sekadar merujuk pada alat ukir fisik, melainkan sebuah perpanjangan tangan, laku spiritual, serta cerminan jiwa dari para pengukirnya. Seni ini telah menjadi identitas penguat bangsa sekaligus penyokong roda ekonomi bagi ribuan keluarga di Jepara.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan respons yang sangat positif atas inisiatif pameran ini. Fadli Zon menilai ajang ini sangat efektif sebagai sarana edukasi sejarah sekaligus media promosi agar seni ukir Jepara semakin mendunia. Ia memaparkan bahwa seni ukir Jepara memiliki rekam jejak sejarah yang luar biasa karena telah berusia lebih dari 500 tahun—bermula dari era Masjid Mantingan di zaman Ratu Kalinyamat, berlanjut ke masa perjuangan RA Kartini, hingga diteruskan oleh para maestro ukir kontemporer saat ini.
Lebih lanjut, Fadli Zon mendorong generasi muda untuk mengambil tongkat estafet kelestarian seni ini melalui berbagai program workshop. Pemerintah juga berencana menyusun wadah manajemen talenta nasional demi membangun kembali ekosistem seni ukir yang berkelanjutan. Ia pun menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan sedang mengupayakan seni ukir Jepara agar diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh UNESCO melalui strategi kerja sama multinasional dengan negara-negara yang memiliki kemiripan budaya ukir serupa.
BUKA PAMERAN “TATAH”, MENTERI KEBUDAYAAN AJAK GENERASI MUDA LESTARIKAN UKIR JEPARA

Tinggalkan Balasan