WIWITAN: LAKU SPIRITUAL DAN TITIK NOL PENCIPTAAN KARYA DI TATAH 2026

​Dalam hiruk-pikuk industri kayu modern yang serba masif dan berorientasi pada kecepatan produksi, ada sebuah tradisi sunyi yang masih dijaga dengan khidmat oleh para pengukir di Jepara. Sebelum mata pahat menyentuh permukaan kayu, terdapat sebuah tahapan fundamental yang disebut Wiwitan. Bagi Roni, salah satu pengukir yang mendedikasikan karyanya untuk eksibisi bergengsi Tatah 2026, ritual ini bukanlah sekadar seremoni formalitas. Sebaliknya, selamatan Wiwitan adalah gerbang spiritual yang menentukan “ruh” dari setiap guratan motif yang nantinya akan dihasilkan.
​Secara harfiah, Wiwitan berarti “awal” atau “permulaan”. Dalam konteks penciptaan seni ukir, ritual ini merupakan bentuk penyucian niat yang paling mendasar. Roni meyakini bahwa kayu adalah benda hidup yang memiliki energi tersendiri. Untuk mengolahnya menjadi sebuah karya seni yang bernyawa, seorang seniman tidak bisa sekadar mengandalkan keterampilan teknis; ia harus terlebih dahulu “meminta izin” kepada Sang Pencipta dan menghormati alam semesta sebagai penyedia material.
​”Intinya adalah berdoa dan memantapkan niat. Orang Jawa itu memulai sesuatu selalu dengan niat yang bersih dan hati yang tenang,” ungkap Roni dengan nada yang teduh. Di bengkel kerjanya di Desa Sukodono, ritual ini dilakukan dengan kesederhanaan yang mendalam, melibatkan doa bersama serta selamatan kecil sebagai wujud syukur. Proses ini berfungsi untuk melepaskan ego pribadi seniman. Harapannya, tangan yang bekerja nantinya tidak digerakkan oleh ambisi komersial semata, melainkan oleh ketulusan batin yang mengalir melalui setiap pahatan.
​Karya-karya yang lahir dari proses kontemplatif ini dipersiapkan secara khusus untuk dipamerkan dalam pameran seni ukir berbasis riset dan sejarah, Tatah 2026. Pameran ini direncanakan akan diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia pada April mendatang, menjadi ruang pertemuan sakral antara praktik tradisi pengukiran Jepara yang turun-temurun dengan pendekatan riset sejarah serta narasi kebudayaan yang lebih luas.
​Melalui Tatah 2026, para seniman seperti Roni ingin menunjukkan kepada publik bahwa di balik keindahan ukiran Jepara yang mendunia, terdapat disiplin spiritual yang kuat. Wiwitan menjadi pengingat bahwa seni bukan sekadar hasil akhir yang estetis, melainkan perjalanan panjang mulai dari titik nol penciptaan. Dengan menjaga tradisi ini, para pengukir Jepara tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memastikan bahwa jiwa dan identitas budaya mereka tetap hidup, bernapas, dan relevan di tengah modernitas yang terus bergerak cepat.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *