PERINGATAN HPSN 2026, BUPATI JEPARA AJAK MASYARAKAT UBAH PERILAKU KELOLA SAMPAH

Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Sampah
​Langkah Pemerintah Kabupaten Jepara dalam menjajaki kerja sama dengan investor internasional serta rencana pembangunan TPST berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) menandai era baru industrialisasi sampah di Kota Ukir. Teknologi RDF yang akan diterapkan memungkinkan sampah residu yang selama ini hanya menumpuk di TPA diolah menjadi bahan bakar alternatif berkualitas tinggi bagi industri semen maupun pembangkit listrik. Hal ini merupakan solusi cerdas untuk memperpanjang usia pakai TPA Bandengan yang kapasitasnya semakin terbatas seiring meningkatnya konsumsi masyarakat.
​Bupati Witiarso Utomo menekankan bahwa Jepara harus berani keluar dari cara-cara lama yang hanya mengandalkan metode “kumpul-angkut-buang”. Menurutnya, transformasi sampah menjadi energi atau produk bernilai guna akan menciptakan nilai tambah ekonomi baru. “Kita ingin sampah tidak lagi dianggap sebagai beban yang menjijikkan, melainkan sebagai sumber daya. Dengan dukungan teknologi dari Kementerian PUPR dan mitra global, kita targetkan residu yang masuk ke pemrosesan akhir berkurang secara signifikan hingga di bawah 30 persen pada tahun-tahun mendatang,” jelasnya.
​Penguatan Akar Rumput melalui Ekonomi Sirkular
​Namun, Bupati juga mengingatkan bahwa kecanggihan mesin tidak akan berarti apa-apa jika pemilahan di tingkat hulu masih diabaikan. Oleh karena itu, Pemkab Jepara akan memperkuat peran Bank Sampah dan TPS3R sebagai garda terdepan dalam memisahkan sampah organik dan anorganik. Dengan memilah sampah sejak dari dapur, masyarakat sebenarnya sedang memutar roda ekonomi sirkular. Sampah plastik dan kertas yang terpilah memiliki nilai jual tinggi, sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot yang mendukung sektor pertanian lokal.
​Edukasi berkelanjutan di sekolah-sekolah juga akan diintensifkan agar budaya bersih tertanam sejak dini. Melalui kurikulum berbasis lingkungan, siswa diajarkan untuk membawa wadah makan sendiri guna meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat luas ini diharapkan menjadi fondasi bagi terciptanya Jepara yang asri.
​Kegiatan HPSN tahun ini diakhiri dengan peninjauan lokasi aksi bersih-bersih yang menyasar aliran sungai dan kawasan pesisir. Aksi fisik ini menjadi pengingat bahwa sampah yang dibuang sembarangan tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan kembali ke meja makan kita dalam bentuk mikroplastik melalui ekosistem laut. “Mari kita jadikan hari ini sebagai titik balik. Jepara Mulus bukan sekadar slogan, tapi harus diwujudkan melalui tangan-tangan kita yang bersih dan peduli pada lingkungan,” pungkas Bupati.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *