JEMBUL TULAKAN JEPARA: TRADISI SAKRAL SARAT SEJARAH DAN MAKNA

Masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) kembali menggelar tradisi Jembul Tulakan. Tradisi ini ternyata memiliki makna dan sejarang yang panjang.

Budi Sutrisno, Petinggi Desa Tulakan, mengatakan Jembul Tulakan merupakan tradisi lokal yang menceritakan tentang perjuangan hidup Ratu Kalinyamat. Seorang wanita penguasa era penjajahan Portugis yang kini telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Asal muasal Jembul Tulakan berkaitan dengan kisah spiritual Kanjeng Ratu Kalinyamat yang bertapa di Gunung Donorojo dalam pencarian dan doa karena kehilangan suaminya, Sultan Hadlirin. Diceritakan, pada masa lampau, Ratu Kalinyamat memiliki dendam dengan Arya Penangsang. Pasalnya, Sultan Hadlirin, tewas dibunuh Arya Penangsang.

Setelah itu, Ratu Kalinyamat membuat sumpah dengan bertapa wuda. Dalam hal ini, tapa wuda atau telanjang tidak dapat dimaknai telanjang dalam arti sebenarnya. Melainkan, Ratu Kalinyamat ‘menelanjangi’ dirinya dari pakaian dan kemewahan sebagai seorang ratu atau raja.

“Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun, yen durung bisa nganggo kesed jambule Arya Penangsang (Aku tidak akan turun dari bertapa sebelum bisa kesed dengan jambul atau rambut Arya Penangsang, red),” ucap Budi menirukan sumpah Ratu Kalinyamat yang dipercayai masyarakat itu, Senin (14/7/2025).

Tempat pertapaan Ratu Kalinyamat sendiri terletak di Bukit Donorojo. Saat itu, Ratu Kalinyamat memerintahkan Danang Sutawijaya untuk membunuh Arya Penangsang.

Pada akhirnya, Danang Sutawijaya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Rambut dan darah Arya Penangsang dibawa kepada Ratu Kalinyamat di pertapaan bernama Sonder itu.

Tak hanya kesed dengan rambut atau jambul Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat juga keramas dengan darah pembunuh suaminya tersebut. Setidaknya seperti itulah keyakinan yang tumbuh di kehidupan masyarakat Desa Tulakan hingga saat ini.

“Setelah keberhasilan itu, akhirnya Ratu Kalinyamat menghentikan tapa wudanya,” jelas Budi.

Lalu, jambul tersebut diarak ke permukiman masyarakat setempat. Dari tragedi itulah, akhirnya masyarakat Desa Tulakan menggelar tradisi Jembul Tulakan.

Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali pada Senin Pahing di bulan Dzulqo’dah. Masyarakat mengarak Jembul yang terbuat dari siratan atau irisan bilah bambu di sekitar rumah kepala desa. Siratan bambu dibuat mirip dengan rambut ikal atau jambul. Kemudian, warga menambahkan kain-kain robek sebagai penghiasnya.

Sumber : lintasaktual.com

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *