Perang Obor di Desa Tegalsambi, Jepara, merupakan tradisi budaya yang memiliki nilai spiritual dan simbolis tinggi, dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Berakar pada abad ke-16, tradisi ini berkaitan dengan tokoh Mbah Kyai Babadan dan Ki Gemblong, yang hingga kini diwariskan secara turun-temurun.

Prosesi Perang Obor mencakup pembuatan obor, pemotongan hewan kurban, pertunjukan wayang kulit, hingga puncak acara berupa perang obor pada malam hari. Selain berfungsi sebagai ritual keagamaan dan budaya, kegiatan ini memiliki potensi besar untuk mendukung pariwisata lokal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan studi literatur untuk mengeksplorasi pelaksanaan tradisi, simbolisme dalam sesaji, dan peran masyarakat dalam melestarikannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perang Obor tidak hanya menjadi sarana pelestarian warisan budaya, tetapi juga memperkuat identitas kolektif dan kebersamaan masyarakat Desa Tegalsambi.
Namun, tradisi ini menghadapi tantangan signifikan dari pengaruh globalisasi dan perubahan nilai-nilai generasi muda. Komitmen masyarakat lokal menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini di tengah arus perubahan. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata, sekaligus mengusulkan strategi adaptasi agar tradisi seperti Perang Obor tetap relevan dan berkelanjutan di masa mendatang.
Tradisi ini tidak hanya melibatkan elemen budaya, tetapi juga menjadi simbol ketahanan masyarakat lokal terhadap tantangan zaman.
Sumber : lintasaktual.com

Tinggalkan Balasan