Pameran reproduksi warisan Kartini dan Jepara telah resmi dibuka dengan penuh antusiasme. Rangkaian kegiatan Sewindu Rumah Kartini ini diawali dengan acara pembukaan yang berlangsung meriah dan dipadati oleh audiens yang sudah tidak sabar untuk menyaksikan langsung ragam warisan budaya yang berhasil direproduksi oleh tim Rumah Kartini.
Acara pembukaan pameran tersebut bertempat di Chody Art Gallery, yang beralamat di Jalan Cik Lanang Nomor 1, Kauman, Jepara. Dalam kesempatan istimewa ini, hadir sejumlah tamu kehormatan, di antaranya Anne Kamphorst dari Kedutaan Besar Belanda, peneliti terkemuka Dr. Joost Cote dari Australia, serta Dr. Paul Bijl dari Belanda. Selain itu, turut hadir pula Ketua Widya Mitra Semarang bersama rekan-rekan komunitas sejarah, baik dari dalam maupun luar wilayah Jepara.
Acara dibuka dengan rangkaian sambutan dan doa bersama. Sesi utama kemudian diisi oleh Dr. Joost Cote, yang telah mendedikasikan waktu selama 20 tahun untuk meneliti sosok R.A. Kartini. Dalam paparannya, beliau menyampaikan materi mendalam mengenai peran Kartini dalam upaya pelestarian pusaka Indonesia. Menurut Dr. Joost, Kartini adalah sosok krusial yang sangat dicintai di Jepara, bukan hanya karena perjuangannya bagi hak-hak perempuan dan otonomi nasional, tetapi juga karena pandangannya terhadap kekayaan budaya.
Dr. Joost menekankan bahwa peran penting Kartini dalam menegaskan nilai pusaka Jawa dan Indonesia sering kali terabaikan dalam literatur sejarah. Dalam surat-surat yang ditujukan kepada korespondennya di Eropa, Kartini secara konsisten menekankan bahwa seni ukir kayu, batik, dan gamelan merupakan refleksi nyata dari jiwa dan kehidupan masyarakat Jawa. Materi yang disampaikan oleh Dr. Joost ini memberikan wawasan baru yang sangat informatif sekaligus inspiratif bagi generasi muda untuk lebih peduli dan menghargai hasil karya budaya bangsa sendiri.
Kemeriahan acara berlanjut dengan penayangan video dokumenter mengenai proses pembuatan reproduksi Gong Senen. Video ini menampilkan perjalanan panjang dari sebuah gambar gong bersejarah, hingga akhirnya direproduksi kembali semirip mungkin dengan aslinya. Proses reproduksi ini dilakukan dengan sangat serius, di mana ritual, metode pembuatan, hingga bahan yang digunakan harus mengikuti pakem sejarah pembuatan Gong Senen pada masa lampau. Penayangan ini memberikan gambaran betapa kuatnya dedikasi untuk menjaga otentisitas warisan masa lalu agar tetap dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi penerus di masa kini.
Tinggalkan Balasan