Peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Jepara tahun 2026 dibuka dengan nuansa seni dan budaya yang sangat kental melalui prosesi Kirab Buka Luwur. Rangkaian kegiatan sakral ini diawali dengan penampilan megah Sendratari Ratu Kalinyamat di Pendopo Kartini, Jepara, pada Kamis (9/4/2026). Melalui gerak tari yang memikat, sendratari ini sukses menghidupkan kembali kisah kepahlawanan Ratu Kalinyamat, sosok pemimpin perempuan yang tidak hanya dikenal karena keberaniannya melawan penjajah Portugis, tetapi juga atas perannya dalam membawa kejayaan serta pengaruh besar bagi perkembangan peradaban Jepara di masa silam.
Usai penampilan tari yang memukau, suasana berubah menjadi lebih khidmat namun tetap semarak. Prosesi berlanjut pada agenda kirab yang menempuh perjalanan dari Pendopo Kartini menuju kompleks Makam Mantingan. Bupati Jepara, H. Witiarso Utomo, atau yang akrab disapa Mas Wiwit, bersama Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar (Gus Hajar), memimpin langsung barisan kirab dengan menunggang kuda. Kehadiran pemimpin daerah yang turun langsung ke jalan ini menjadi pemandangan yang memberikan kesan kepemimpinan yang merakyat dan dekat dengan sejarah leluhur.
Keunikan kirab tahun ini terletak pada konsep penyelenggaraan yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jajaran Forkopimda, para Kepala Perangkat Daerah, hingga elemen masyarakat luas turut ambil bagian dalam iring-iringan, menciptakan kolaborasi apik antara pemerintah dan rakyat. Antusiasme warga tampak jelas di sepanjang jalur yang dilalui kirab. Masyarakat tumpah ruah memadati jalanan, menyambut kehadiran pemimpin mereka dengan senyuman dan sapaan hangat. Banyak warga yang berebut untuk sekadar menyalami Mas Wiwit, mencerminkan kedekatan emosional yang erat antara masyarakat dengan sosok pemimpinnya.
Tradisi Buka Luwur di kompleks Makam Mantingan sendiri merupakan ritual budaya religius yang sudah mengakar kuat sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh besar seperti Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat. Istilah “luwur” merujuk pada kain penutup makam yang secara filosofis melambangkan kesucian dan rasa hormat yang mendalam. Penggantian kain ini bukan sekadar ritual rutin tahunan, melainkan wujud syukur dan upaya spiritual untuk memohon keberkahan.
Melalui rangkaian prosesi ini, Pemerintah Kabupaten Jepara berhasil menyinergikan nilai sejarah dengan semangat kebersamaan di era modern. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya semata, tetapi juga momentum untuk memperkokoh identitas masyarakat Jepara sebagai bangsa yang menjunjung tinggi akar tradisi dan keberanian para pendahulunya. Dengan mengusung semangat Ratu Kalinyamat, Jepara melangkah mantap menyambut masa depan dengan berlandaskan nilai-nilai luhur budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
SENDRATARI RATU KALINYAMAT AWALI PROSESI KIRAB BUKA LUWUR DI JEPARA

Tinggalkan Balasan