KOMITMEN PERLINDUNGAN SEKTOR PERIKANAN DAN PERTANIAN

Langkah cepat Pemkab Jepara dalam menggandeng pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi strategi krusial untuk mengisi celah anggaran daerah. Bupati Witiarso Utomo menegaskan bahwa sinergi dengan PLN Tanjung Jati B merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitar, khususnya masyarakat pesisir yang paling terdampak oleh perubahan cuaca ekstrem. Musim baratan yang membawa gelombang tinggi seringkali memutus mata pencaharian nelayan selama berminggu-minggu, sehingga intervensi pangan menjadi harga mati bagi pemerintah.
​”Kita tidak ingin ada nelayan di Jepara yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok hanya karena cuaca tidak bersahabat. Bantuan 5 kg beras per keluarga ini memang terlihat sederhana, namun jika dilakukan secara serentak dan tepat sasaran, dampak psikologis dan sosialnya sangat besar bagi ketahanan pangan keluarga nelayan,” ujar Mas Wiwit di sela-sela penyerahan bantuan.
​Selain fokus pada pemenuhan pangan, Mas Wiwit juga menginstruksikan Dinas Perikanan untuk terus melakukan pendampingan teknis bagi para nelayan. Harapannya, di masa mendatang para nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut saat musim normal, tetapi juga memiliki keterampilan alternatif atau akses ke skema asuransi nelayan yang lebih mapan untuk menghadapi masa-masa paceklik yang rutin terjadi setiap tahun.
​Pemulihan Sektor Pertanian Pasca Banjir
​Di sisi lain, perhatian pemerintah terhadap sektor pertanian juga tidak kalah besar. Dampak banjir yang merendam 2.800 hektare sawah di berbagai wilayah Jepara telah menyebabkan kerugian signifikan bagi petani. Penyaluran benih padi sebanyak 68,7 ton merupakan upaya recovery agar para petani bisa segera melakukan tanam ulang tanpa harus terbebani biaya modal benih yang tinggi.
​Pemerintah Kabupaten Jepara menyadari bahwa sektor pertanian dan perikanan adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan di Bumi Kartini. Dengan total nilai bantuan benih mencapai Rp1,167 miliar, Mas Wiwit berharap produktivitas gabah di Jepara tetap terjaga demi menyokong swasembada pangan daerah.
​”Petani kita sudah cukup menderita karena gagal panen akibat puso. Oleh karena itu, birokrasi penyaluran benih ini saya minta dipercepat melalui kelompok tani. Paling lambat besok semua harus sudah terdistribusi agar mereka bisa mengejar musim tanam berikutnya,” tegasnya.
​Kegiatan yang berlangsung di Desa Bondo ini ditutup dengan dialog hangat antara Bupati dan para tokoh nelayan setempat. Kehadiran pemerintah secara langsung di lapangan diharapkan dapat memberikan rasa aman dan optimisme bagi masyarakat Jepara dalam menghadapi tantangan ekonomi dan anomali cuaca di tahun 2026 ini.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *