JEPARA – Upaya pemulihan akses transportasi di wilayah Desa Tempur, Kecamatan Keling, terus dikebut oleh Pemerintah Kabupaten Jepara. Pasca terjadinya longsor di jalur Leki pada Rabu malam, tim gabungan yang dikoordinasi oleh BPBD Jepara bekerja tanpa henti untuk menyingkirkan material batuan vulkanik yang menutup akses utama satu-satunya desa di kaki Gunung Muria tersebut. Kecepatan penanganan ini menjadi krusial mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi ekonomi dan mobilitas warga setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menekankan bahwa tantangan utama di lapangan adalah ukuran batuan yang sangat besar, sehingga tidak memungkinkan dievakuasi secara manual. Penggunaan alat berat jenis breaker menjadi kunci untuk memecah bongkahan batu tebing sebelum dipindahkan menggunakan excavator. Strategi ini diambil agar badan jalan tidak mengalami kerusakan lebih lanjut akibat beban material yang terlalu berat.
Pemulihan Jaringan Listrik dan Infrastruktur
Dampak dari cuaca ekstrem tersebut tidak hanya melumpuhkan akses jalan, tetapi juga memutus jaringan distribusi listrik ke pemukiman warga. Sinergi dengan PLN dilakukan secara simultan; sembari BPBD membersihkan jalan, petugas PLN bergerak cepat mendirikan tiang listrik baru di medan yang cukup sulit. Langkah ini dilakukan guna memastikan aktivitas warga di Desa Tempur tidak terisolasi lebih lama akibat kegelapan.
Dinas PUPR Kabupaten Jepara juga telah menerjunkan tim teknis untuk melakukan pengurugan pada bagian jalan yang ambles atau tergerus air hujan. Fokus jangka pendek adalah memastikan stabilitas bahu jalan agar kendaraan kecil, terutama roda dua yang membawa kebutuhan pokok, dapat melintas dengan aman dalam hitungan hari.
Mitigasi Jangka Panjang dan Kewaspadaan Dini
Selain fokus pada penanganan darurat di jalur Leki, BPBD Jepara juga memberikan atensi pada titik rawan lainnya di kawasan Kaliombo. Pemasangan bronjong di tebing-tebing kritis terus diakselerasi sebagai langkah preventif jangka panjang. Hal ini bertujuan untuk menciptakan tanggul penahan tanah yang lebih kokoh guna meminimalisir dampak erosi saat hujan dengan intensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut.
Pemerintah Kabupaten Jepara melalui BPBD mengapresiasi peran aktif para relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang menjadi garda terdepan dalam memberikan informasi awal kepada petugas. Arwin mengimbau masyarakat agar selalu memantau prakiraan cuaca dan waspada terhadap tanda-tanda alam seperti retakan tanah atau perubahan aliran air di lereng tebing.
“Gotong royong antara pemerintah, relawan, dan warga adalah kekuatan utama kita dalam menghadapi bencana ini. Meski jalur mulai terbuka, kewaspadaan tetap yang utama mengingat topografi Desa Tempur yang memang rawan pergerakan tanah di musim penghujan,”
PEMKAB JEPARA TANGANI LONGSOR DI DESA TEMPUR, AKSES JALAN MULAI DIBUKA

Tinggalkan Balasan