JEPARA, lintasaktual.com – Pemerintah Indonesia secara resmi memperkuat upaya diplomasi budaya untuk membawa Seni Ukir Jepara masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO. Dalam langkah strategis terbaru, Indonesia menjalin komunikasi intensif dan kolaborasi lintas negara dengan Bosnia Herzegovina, negara yang telah lebih dulu sukses menempatkan tradisi ukirnya di panggung dunia.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah untuk melindungi, melestarikan, dan memperkenalkan kekayaan intelektual serta keterampilan artistik masyarakat Jepara ke tingkat internasional. Upaya ini bukan sekadar mengejar label prestisius, melainkan sebuah bentuk kedaulatan budaya di tengah arus modernisasi.
Belajar dari Kesuksesan Konjic Woodcarving
Bosnia Herzegovina dipilih sebagai mitra strategis karena memiliki kemiripan historis dan teknis yang signifikan dalam tradisi seni memahat. Kota Konjic di Bosnia telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2017. Teknik Konjic Woodcarving memiliki kemiripan dengan Jepara dalam hal ketelitian motif dan cara pewarisan keahlian yang dilakukan secara turun-temurun dalam lingkup keluarga.
Indonesia memandang bahwa berbagi pengalaman (best practices) dengan Bosnia Herzegovina akan mempercepat proses penyusunan dosir (dokumen pencalonan) yang kuat. Dokumen ini harus memenuhi kriteria ketat UNESCO, termasuk bukti keberlanjutan tradisi dan keterlibatan aktif komunitas lokal.
“Seni Ukir Jepara bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan identitas peradaban yang telah membentuk struktur sosial masyarakat kita selama berabad-abad. Dengan menggandeng Bosnia Herzegovina, kita ingin membangun jembatan budaya sekaligus mempelajari strategi diplomasi kebudayaan yang efektif agar narasi kita diterima di meja sidang UNESCO,” ujar perwakilan pemerintah dalam keterangannya.
Poin Penting Kerja Sama Internasional
Kerja sama bilateral ini dirancang untuk mencakup beberapa poin krusial yang akan memperkuat posisi Indonesia:
- Pertukaran Pengetahuan: Melakukan diskusi teknis mengenai metode dokumentasi digital dan pengarsipan sejarah seni ukir guna memenuhi standar bukti otentisitas UNESCO.
- Diplomasi Kebudayaan: Saling memberikan dukungan di forum-forum internasional serta mengadakan pameran bersama guna memperkuat narasi bahwa seni ukir adalah warisan kemanusiaan yang universal.
- Pengembangan Ekonomi Kreatif: Membangun jejaring pasar baru yang menghubungkan pengrajin dari Asia Tenggara dengan kolektor dan desainer di Eropa Timur dan Tengah.
- Edukasi dan Regenerasi: Mengadaptasi kurikulum pelatihan seni ukir yang berhasil diterapkan di Bosnia untuk diaplikasikan pada sekolah-sekolah kejuruan di Jepara demi mengatasi ancaman krisis regenerasi pengukir muda.
Harapan Baru bagi Ekosistem Pengrajin
Pengakuan dari UNESCO nantinya diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan simbolis atau sekadar plakat di dinding kantor pemerintahan. Dampak nyata yang disasar adalah perlindungan hak kekayaan intelektual bagi motif-motif khas Jepara serta peningkatan nilai ekonomi produk di pasar global.
Selama ini, para pengrajin seringkali menghadapi kendala dalam hal standarisasi harga dan klaim motif oleh pihak asing. Dengan status WBTB UNESCO, posisi tawar produk ukir Jepara akan meningkat drastis, menjadikannya produk premium yang diakui secara hukum internasional.
Pemerintah optimis bahwa dengan dukungan internasional yang solid dan konsistensi dari para seniman lokal, Jepara sebagai “The World Carving Center” akan segera mendapatkan legitimasi resmi. Perjalanan menuju Paris, markas UNESCO, kini semakin terang dengan adanya kolaborasi lintas benua ini.
Tentang Seni Ukir Jepara: Seni Ukir Jepara merupakan tradisi memahat kayu khas Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang dikenal dengan motif Trubusan (daun yang tumbuh) dan Jrumut. Keahlian ini telah menjadi urat nadi ekonomi dan sosial budaya masyarakat setempat selama berabad-abad, mencerminkan akulturasi budaya lokal dengan pengaruh sejarah yang panjang.

Tinggalkan Balasan