Keterbatasan fisik maupun mental tidak menjadi halangan bagi para penyandang disabilitas untuk menorehkan prestasi dan menghasilkan karya bernilai ekonomi tinggi. Hal ini dibuktikan oleh para penerima manfaat di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental (RPSDM) Waluyotomo Jepara yang berhasil memproduksi kerajinan batik ciprat berkualitas. Karya seni ini bahkan telah sukses menembus pasar antarpulau, menjangkau berbagai wilayah mulai dari Provinsi Aceh hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Produk unggulan hasil pembinaan keterampilan ini sempat diperkenalkan secara khusus kepada jajaran delegasi diplomatik yang melaksanakan kunjungan kerja ke Galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Jepara. Pekerja Sosial RPSDM Waluyotomo, Dini, mengungkapkan bahwa program pembinaan batik ciprat ini mulai digarap secara serius dan masif sejak tahun 2022 lalu. Awalnya, kegiatan tersebut sekadar menjadi bagian dari bimbingan keterampilan harian biasa.
Namun, respons luar biasa dari masyarakat saat pameran perdana mengubah arah program menjadi peluang usaha yang menjanjikan.
Animo publik yang tinggi membuat pihak panti menerima banyak pesanan dari berbagai kalangan.
Perkembangan positif ini kemudian menarik perhatian Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah untuk memberikan dukungan berupa hibah Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Program bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi melalui pendanaan dari Pemerintah Queensland, Australia.
Guna memperluas jangkauan pasar, proses pemasaran yang dulunya konvensional kini beralih memanfaatkan platform digital seperti media sosial serta berbagai marketplace daring.
Dari total kurang lebih 100 orang penerima manfaat yang bernaung di RPSDM Waluyotomo, saat ini terpilih sekitar 10 orang yang dinilai memiliki konsistensi serta kemampuan penuh untuk mengikuti seluruh tahapan produksi, mulai dari proses mencanting hingga tahap pengemasan akhir.
Dalam situasi dan kondisi normal, kapasitas produksi harian maupun mingguan mampu menghasilkan sekitar 10 hingga 20 lembar kain batik. Angka produktivitas ini sangat bergantung pada kestabilan kondisi psikologis penerima manfaat serta faktor cuaca di lingkungan panti.
Dini menambahkan, seluruh hasil bersih dari penjualan produk batik ciprat ini tidak diambil oleh pengelola, melainkan dikelola sebagai tabungan pribadi bagi para penerima manfaat.
Dana tabungan tersebut dipersiapkan sebagai modal awal ketika mereka nantinya selesai menjalani masa rehabilitasi dan kembali berinteraksi dengan keluarga serta masyarakat luas. Melalui bekal keterampilan produktif ini, mereka diharapkan mampu mandiri secara finansial di masa depan.
Kendati demikian, proses pembinaan rutin ini tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan.
Konsistensi peserta menjadi salah satu faktor penentu utama yang dipengaruhi oleh kesiapan mental dan kondisi emosional mereka. Selain itu, aspek produksi juga sangat bergantung pada alam karena proses pengeringan kain sepenuhnya mengandalkan panas sinar matahari langsung. Ketika musim hujan tiba, proses pembuatan terpaksa dihentikan sementara waktu.
Salah seorang peserta program, Andi (42), mengaku sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Ia telah mengikuti kegiatan membatik sejak awal program digulirkan dengan pendampingan intensif dari para petugas panti. Dalam proses pembuatannya, kain putih terlebih dahulu dibentangkan menggunakan bantuan peniti, karet, dan kayu, lalu dilanjutkan dengan pengaplikasian malam sesuai motif pesanan. Pengerjaan satu lembar kain biasanya memakan waktu hingga sepekan tergantung tingkat kerumitannya.

Tinggalkan Balasan