Eksistensi Global “The World Carving Center”
Capaian angka Rp2,41 miliar hanya dalam waktu dua hari membuktikan bahwa daya tarik mebel Jepara tetap menjadi primadona di pasar internasional. Dominasi 75 persen buyer mancanegara menunjukkan bahwa identitas Jepara sebagai pusat ukir dunia belum tergoyahkan. Kehadiran pengunjung dari negara-negara dengan standar kualitas tinggi seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Spanyol menegaskan bahwa produk industri kecil menengah (IKM) Jepara mampu bersaing dalam hal desain, durabilitas, dan estetika.
Kepala Disperindag Jepara, Anjar Jambore Widodo, menekankan bahwa IFEX bukan sekadar ajang pameran musiman, melainkan jembatan strategis untuk memutus rantai distribusi yang panjang. Dengan bertemunya produsen asal Jepara secara langsung dengan buyer dari India, China, hingga Timur Tengah, para pengusaha lokal dapat memahami tren pasar global secara real-time. Misalnya, tren penggunaan material berkelanjutan (sustainable wood) dan desain minimalis namun tetap menonjolkan aksen ukiran khas yang mulai banyak diminati oleh pasar Eropa.
Diversifikasi Pasar dan Penguatan Ekspor
Masuknya buyer asal India sebesar 13 persen memberikan sinyal positif mengenai diversifikasi pasar. Selama ini, ekspor mebel Jepara sangat bergantung pada pasar tradisional di Amerika dan Eropa. Namun, pertumbuhan ekonomi yang pesat di wilayah Asia Selatan dan Timur Tengah membuka peluang baru yang sangat potensial. Pemerintah Kabupaten Jepara berkomitmen untuk terus mendampingi para pelaku usaha dalam hal standarisasi produk agar memenuhi regulasi perdagangan di negara-negara tersebut.
”Kami melihat ada pergeseran menarik, di mana negara-negara Asia kini mulai melirik kualitas pengerjaan tangan (handmade) dari pengrajin kita. Transaksi yang terjadi di Paviliun Jepara ini sebagian besar merupakan trial order yang sangat mungkin berkembang menjadi kontrak jangka panjang dengan volume yang jauh lebih besar,” tambah Anjar.
Selain itu, partisipasi 40 peserta secara mandiri di luar Paviliun Jepara menunjukkan kemandirian finansial dan kepercayaan diri yang tinggi dari para pengusaha mebel Kota Ukir. Sinergi antara pemerintah melalui Paviliun Jepara dan sektor swasta melalui booth mandiri menciptakan ekosistem promosi yang masif, sehingga nama “Jepara” menjadi magnet utama sepanjang lorong pameran di ICE BSD.
Pemerintah berharap, pasca penyelenggaraan IFEX 2026, nilai transaksi akan terus bergerak naik seiring dengan proses tindak lanjut (follow-up) dari para buyer yang telah melakukan kunjungan. Penataan manajemen logistik dan kemudahan perizinan ekspor akan terus diperbaiki oleh Pemkab Jepara guna memastikan kelancaran pengiriman produk dari workshop di desa-desa Jepara menuju pelabuhan internasional.
TRANSAKSI PAVILIUN JEPARA TEMBUS RP2,41 MILIAR DALAM DUA HARI DI IFEX

Tinggalkan Balasan